Selasa, 02 Juli 2013

Gua Jatijajar


Gua Jatijajar adalah sebuah tempat wisata berupa gua alam yang terletak di desa Jatijajar, Kecamatan AyahKabupaten Kebumen. Gua ini terbentuk dari batu kapur. Gua Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter dan tinggi rata-rata 12 meter sedangkan ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketingian dari permukaan laut 50 meter.
Gua ini ditemukan oleh seorang petani yang memiliki tanah di atas Gua tersebut yang Bernama "Jayamenawi". Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Gua tersebut. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter.
Pada mulanya pintu-pintu Gua masih tertutup oleh tanah. Maka setelah tanah yang menutupi dibongkar dan dibuang, ketemulah pintu Gua yang sekarang untuk masuk. Karena di muka pintu Gua ada 2 pohon jati yang besar tumbuh sejajar, maka gua tersebut diberi nama Gua Jatijajar (Versi ke I).

Sungai dan Mitos
Di dalam Gua Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi yang data dicapai dengan mudah hanya 4 (empat) sungai yaitu:
  1. Sungai Puser Bumi
  2. Sungai Jombor
  3. Sungai Mawar
  4. Sungai Kantil
Untuk sungai Puser Bumi dan Jombor konon airnya mempunyai khasiat dapat digunakan untuk segala macam tujuan menurut kepercayaan masing-masing. Sedangkan Sungai Mawar konon airnya jika untuk mandi atau mencuci muka, mempunyai khasiat bisa awet muda. Adapun Sendang kantil jika airnya untuk cuci muka atau mandi, maka niat/cita-citanya akan mudah tercapai.
Pada saat ini yang telah dibangun baru Sendang Mawar dan Sendang Kantil, Sedangkan Sendang Jombor dan Sendang Puser Bumi masih alami dan masih belum ada penerangan serta licin.

Obyek Wisata

Pada tahun 1975 Gua Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi Objek Wisata. Adapun yang mempunyai ide untuk mengembangkan atau membangun Gua Jatijajar yaitu Bapak Suparjo Rustam sewaktu menjadi Gubernur Jawa Tengah. Sedang pada waktu itu yang menjadi Bupati Kebumen adalah Bapak Supeno Suryodiprojo.

Untuk melancarkan dan melaksanakan pengembangan Gua Jatijajar ditunjuk langsung oleh Bapak Suparjo Rustam cv.AIS dari Yogyakarta, sebagai pimpinan dari cv.AIS adalah Bapak Saptoto, seorang seniman deorama yang terkenal di Indonesia. Sebelum Pemda Kebumen melaksanakan pembagunan Gua Jatijajar, terlebih dahulu Pemda Kebumen telah mengganti rugi tanah penduduk yang terkena lokasi pembangunan Objek Wisata Gua Jatijajar Seluas 5,5 hektar.
Setelah Gua Jatijajar dibangun maka pengelolanya dikelola oleh Pemda Kebumen. Sejak Gua Jatijajar dibangun, di dalam Gua Jatijajar sudah ditambah dengan bangunan-bangunan seni antara lain: pemasangan lampu listrik sebagai penerangan, trap-trap beton untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang masuk ke dalam Gua Jatijajar serta pemasangan patung-patung atau deorama.
Batuan
Di dalam Gua Jatijajar banyak terdapat Stalagmit dan juga Pilar atau Tiang Kapur, yaitu pertemuan antara Stalagtit dengan Stalagmit. Kesemuanya ini terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu kapur yang ditembusnya. Menurut penelitian para ahli, untuk pembentukan Stalagtit itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam satu tahun terbentuknya Stalagtit paling tebal hanya setebal 1 (satu) cm saja. Oleh sebab itu Gua Jatijajar merupakan gua Kapur yang sudah tua sekali.
Batu-batuan yang ada di Gua Jatijajar merupakan batuan yang sudah tua sekali. Karena umur yang sudah tua sekali itu, maka di muka Gua Jatijajar dibangun sebuah patung Binatang Purba Dino Saurus sebagai simbol dari Objek Wisata Gua Jatijajar, dari mulut patung itu keluar air dari Sendang Kantil dan sendang Mawar, yang sepanjang tahun belum pernah kering. Sedangkan air yang keluar dari patung Dino Saurus tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai pengairan sawah desa Jatijajar dan sekitarnya.

Diorama

Diorama yang di pasang dan dalam Gua Jatijajar ada 8 (delapan) deorama, yang patung-patungnya ada 32 buah. Keseluruhannya mengisahkan cerita Legenda dari "Raden Kamandaka - Lutung Kasarung". Adapun kaitannya dengan Gua Jatijajar ialah, dahulu kala Gua Jatijajar pernah digunakan untuk bertapa oleh Raden Kamandaka Putera Mahkota dari Kerajaan Pajajaran, yang bernama aslinya Banyak Cokro atau Banyak Cakra.

Perlu diketahui bahwa zaman dahulu sebagian dari wilayah Kabupaten Kebumen, adalah termasuk wilayah kekuasaan Pajajaran, yang pusat pemerintahannya di Bogor (Batutulis) Jawa Barat.
Adapun batasnya yaitu Kali Lukulo dari Kabupaten Kebumen sebelah Timur Kali Lukulo masuk ke wilayah Kerajaan Mojopahit, sedangkan sebelah barat Kali Lukulo masuk wilayah Kerajaan Pajajaran. Sedangkan cerita itu terjadinya di kabupaten Pasir Luhur, yaitu daerah Baturaden atau Purwokerto pada abad ke-14. Namun keseluruhan dioramanya dipasang di dalam Gua Jatijajar

LOGENDING, KEBUMEN

PANTAI LOGENDING



Pantai Logending, 8 km selatan Gua Jatijajar, atau 53 km dari kota Kabupaten Kebumen, tepatnya di Desa/Kecamatan Ayah, merupakan obyek wisata pantai yang memiliki keindahan alam sangat menawan. Dari kondisinya, yang berada di antara laut selatan dengan kawasan hutan jati milik Perum Perhutani KPH kedu selatan ini, merupakan kombinasi atau perpaduan antara pantai dan hutan, seperti itu jarang kita jumpai. Untuk di jawa Tengah mungkin hanya ada di kota yang berslogan “BERIMAN” ini.

Pantai wisatanya cukup luas, apalagi saat ini sudah bebas pandangan, dengan dilarangnya mendirikan warung-warung di sentral pandangan. Sehingga para wisatawan bisa lebih asyik menikmati pemandangan yang ada tanpa terganggu pandangan yang kurang sedap. Selain pantainya yang cukup lapang, para wisatawan juga bisa menikmati indahnya muara sungai Bodo, dengan perahu-perahu pesiar yang disediakan para nelayan setempat. Dengan perahu-perahu tradisional, maupun perahu tempel, kita bisa menelusuri muara sungan Bodo yang merupakan pemisah antara wilayah Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Cilacap. Selain air sungai Bodo yang tenang, rimbunnya pohon-pohon playau di tepian sungai, serta lebatnya hutan jati milik perhutani, menambah indahnya pemandangan.
Wisata Alam dan Bumi Perkemahan

Kondisi pantai Logending sangat menawan, meskipun sampai saat ini bisa dikatakan belum dikelola secara intensif, serta belum adanya pihak luar yang ikut campur tangan menanganinya, namun sudah mengundang banyak wisatawan termasuk wisatawan mancanegara. Para wisatawan tidak bakal dibuat kecewa, dengan kondisi obyek wisata Logending yang sudah dikenal sejak lama. Apalagi bagi para remaja yang suka dengan petualang dan kemping. Di lokasi dan sekitar obyek wisata ini memang sangat tepat dijadikan medan penelusuran wisata alam dan spyolologi bahkan banyak pula para remaja yang tergabung dalam kelompok pecinta alam, seperti pramuka saka wanabhakti yang melakukan kegiatan jumping (panjat tebing) dan melakukan kegiatan giri wana relly di lokasi hutan setempat.

Biasanya, bagi pencinta alam maupun wisatawan yang baru melakukan kegiatan giri wana rely, ataupun kegiatan penelitian seputar kawasan obyek wisata dan hutan setempat, selanjutnya mereka tetap berada di pantai Logending dengan mendirikan tenda-tenda perekemahan pada malam harinya. Karena di lokasi obyek wisata Logending ini, oleh Perum Perhutani disediakan lokasi untuk perkemahan. Dari sisi lain yang menarik obyek wisata dan bumi perkemahan Pantai Logending ini, dan saat ini belum diketahui secara luas adalah, terdapat tanaman yang tergolong langka. Tanaman langka yang jarang ditemui di Jawa maupun di luar Jawa, saat ini tumbuh sangat subur dan sudah besar-besar. Tepatnya berada di lokasi wana wisata setempat, yaitu pohon Mahoni Afrika. Dari sangat langkanya di daerah lain, Logending ini sering dijadikan obyek penelitian oleh berbagai pakar dan mahasiswa yang berkait erat dengan tumbuh-tumbuhan, khususnya di lingkungan Perum Perhutani. Saat ini, di tempat itu pula dijadikan lokasi pembitian Mahoni Afrika yang selanjutnya akan dikembangkan di berbagai wilayah Jawa ini.

Sarana dan Fasilitas
Obyek wisata pantai Logending, lokasinya sangat strategis, karena berada pada jalur lalulintas umum yang menghubungkan masyarakat di atas pegunungan, seperti, Argopeni, Karangduwur dan sebagainya dengan masyarakat di bawah pegunungan. Sarana jalan, dari Gombong hingga wilayah pegunungan yang melewati obyek wisata Logending, sangatlah mudah. Jalan beraspal hotmik, dengan bahu badan lebar, sangat memungkinkan untuk dilalui bus-bus besar. Di lokasi obyek wisata, tersedia perparkiran yang cukup luas, bisa menampung lebih dari 50 bus. Tersedianya fasilitas MSK yang lengkap dengan tempat beribadah dan penginapan (Wisma). Juga fasilitas permainan anak-anak, perahu-perahu nelayan yang difungsikan sebagai perahu pesiar, dan hampir setahun sekali obyek wisata ini diadakan lomba perahu tradisional.
Ketenangan
Bagi pengunjung obyek wisata Pantai Logending Ayah, pihak pengelola selalu siap siaga membantu memberikan perlindungan. Selain setiap pengunjung diasuransikan melalui Jasa Raharja yang pembayaran preminya diserahkan dalam karcis masuk, para petugas sebelumnya selalu memberikan penyuluhan kepada pengunjung, berkait dengan kondisi obyek wisata yang ada, tanpa mengurangi kebebasan mereka menikmati keindahan obyek wisata. Keamanan dan ketenangan pengunjung lebih terjamin, karena ditunjang dengan keramah-tamahan penduduk sekitar obyek yang banyak melakukan aktifitasnya di kawasan obyek itu sendiri.
Kenang-kenangan
Sebagai obyek wisata yang berada di sekitar hutan dan pantai yang di huni oleh penduduk, dengan sebagian besar sebagai nelayan dan pengrajin gula kelapa, dari kondisi alamnya itu sendiri, keindahannya tidak bakal bisa dilupakan sepanjang zaman. Bagi pengunjung yang menginginkan souvenir, baik itu makanan khas berupa grobi, gula kelapa, maupun ikan hasil tangkapan para nelayan, juga tersedia aneka souvenir berupa kerajinan anyaman-anyaman pandan, kerajinan kece dan sebagainya. Untuk mendapatkan souvenir cukup mudah, karena toko-toko souvenir letaknya berada di lokasi parkir, berjajar dengan rumah sederhana yang murah, meriah, namum penuh gizi, karena banyak menyediakan ikan segar.
Riwayat Singkat
Sejak zaman pendudukan Belanda dan berkepentingan Jepang di Indonesia, Pantai Logending sudah merupakan tempat pesiar (plesiran). Seperti di tuturkan Sastro (60), juru kunci makan Selo Kabut yang diyakini oleh penduduk setempat sebagai makan Ki Ajar Tonggo. Ki Ajar Tonggo adalah seorang pintar yang mukim di Pantai Ayah, saat Ayah dikuasai dan diperintah oleh Adipati Suronegoro dan Kartonegoro I. Dan pada saat Jepang menduduki Indonesia, wilayah Ayah, rupanya merupakan salah satu tempat strategis yang dijadikan tempat pengintaian dan pos penjagaan, hal itu bisa dibuktikan dengan masih adanya peninggalan bangunan semacam benteng, baik di tepi pantai, maupun di atas pengunungan Gajah. Menurut penduduk setempat, bangunan-bangunan tadi merupakan tempat pengintaian untuk mengetahui tentara-tentara musuh dari arah barat, yaitu dari arah Cilacap dan Nusakambangan dengan mempergunakan perahu. Begitu pula, saat terjadi pergolakan revolusi di tahun 48 – 50, kawasan hutan setempat dijadikan tempat pelarian dan persembunyian tentara-tentara pejuang. namun sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan, bahwa di kawasan itu dijadikan markas

Karang Bolong, Kebumen

Kebumen - Tepatnya masuk wilayah Kecamatan Buayan, Pantai Karangbolong terletak lebih kurang 18
km arah selatan dari kota Gombong atau 39 km arah barat daya dari kota Kebumen. Pantai yang terkenal dengan sarang burung walet (lawet) dan menjadi komoditi andalan Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen.
Karangbolong kebumen
Tidak seperti pantai pada umumnya yang berpasir putih, di Karangbolong lebih didominasi dengan hamparan pasir yang berwarna keabu-abuan, berasal dari pengikisan batuan  Sedimen Klastik di sekitar pantai. Sapuan ombak besar yang membentur dinding perbukitan menghasilkan energi yang cukup untuk mengikis, mengangkut dan mengendapkan kembali butiran batuan. Derajat pelapukan yang tinggi di kawasan ini mempercepat proses Abrasi tersebut. Singkapan Breksi Lahar yang berada di pinggir pantai mengalami pengikisan, menghasilkan bentukan Abrasi yang unik. Pantai Karangbolong mempunyai potensi pembentukan arus balik yang kuat, sehingga merupakan kawasan yang berbahaya untuk berenang.
Di kawasan Pantai ini juga terdapat Gua Karangbolong, yang terletak di sisi timur. Sebuah lorong yang cukup panjang terbentuk pada lapisan Breksi lahar yang terkekarkan. Gua Karangbolong berukuran panjang300 M, lebar100 M dan tinggi sekitar 55 M. Breksi yang dikenal sebagai Formasi Gabon ini berumur Oligo-Miosen atau antara 300155 Juta tahun lalu. Tersingkap bersama-sama dengan sisipan batu pasir dan batu lempung.
proses pengambilan sarang burung lawet

Kawasan ini terkenal dengan sarang burung waletnya. Burung-burung kecil pemakan serangga itu tinggal di dalam lubang, ceruk, atau gua-gua breksi di sepanjang dinding terjal yang berbatasan langsung dengan laut. Sulitnya memvisualisasikan proses pengambilan sarang burung secara tradisional mendasari ide pembuatan miniatur cara pemanenan di atas gua Karangbolong. Pengambilan sarang burung yang dilakukan 4 kali dalam setahun didahului dengan serangkaian prosesi adat dan pertunjukan kesenian daerah. 
Banyaknya pohon kelapa yang melindungi para wisatawan menjadikan kita betah melihat deburan ombak yang menghantam karang. Anda juga dapat menikmatinya dari gardu pandang.
Berbagai jenis hidangan pun telah tersedia di sekitar obyek wisata.

Route :
Dari arah kota Gombong ke selatan yang berjarak lebih kurang 18 km dengan waktu tempuh lebih kurang 30 menit menggunakan kendaraan bermotor pribadi. Angkutan umum yang melayani trayek Gombong-Karangbolong bolak-balik juga cukup tersedia.Selain dari arah kota Gombong, pantai ini juga dapat dilalui melalui jalur selatan Jogjakarta - Cilacap.

Pantai Rowo, Mirit, Kebumen

Pantai Rowo merupakan salah satu pantai yang terdapat di kabupaten Kebumen bagian timur. Lokasinya di desa Lembupurwo kecamatan Mirit sekitar 10 km dari kota Prembun atau 1,5 km ke selatan dari jalur alternatif Jogja-Jakarta. Hampir berbatasan langsung dengan kabupaten Purworejo. Jalan untuk ke sana sudah diaspal sehingga cukup mudah untuk dilalui dengan kendaraan.
Pantai Rowo masih cukup perawan dan tidak perlu membayar retribusi untuk masuk ke sana. Pokoknya bebas. Pemandangan di sana cukup bagus. Kita akan melewati daerah perkebunan yang ditanami melinjo, jagung, cabe, kelapa, jambu mete, dan juga semangka. Setelah itu medan mulai berganti dengan gunungan pasir sekitar 50 meter. Cukup panas juga ketika matahari bersinar terik, untuk itu jika ke sana siang hari saya sarankan untuk membawa payung.

Medan gunungan pasir selesai, kita akan turun melewati segara anakan sebelum akhirnya sampai di tepi pantai. Segara anakan ini seperti danau kecil yang terbentuk ketika air pasang. Di sana banyak ikan-ikan kecil, kepiting dan aneka kerang. Karena dangkal, banyak yang sering mandi di situ ketika selesai berenang di laut dan ada beberapa kapal wisata yang dapat mengantarkan kita berkeliling danau. Di sini tidak perlu takut kepanasan karena di sepanjang segara anakan telah dijadikan area konservasi cemara udang oleh KKN UGM Yogyakarta sejak tahun 2007/2008 lalu. Selain itu kini juga mulai ditanami tanaman bakau. Bisa dibayangkan bukan.

Menginjak pantainya, kita akan disambut pasir hitam bersih yang cukup luas dan dengan garis pantai yang panjang dari ujung timur hingga ujung barat. Lautnya bersih, berwarna biru dan berombak besar. Jika kita berjalan terus ke timur nantinya kita akan bertemu dengan muara sungai Gentan. Biasanya jika di hari libur, seperti hri minggu atau hari raya, pantai ini selalu ramai dan ada beberapa pedagang yang akan berjualan di tepi pantai di gubuk-gubuk kecil. Tempe mendoannya tak perlu diragukan lagi rasanya, apalagi jika masih hangat. Ada juga rempeyek undur-undur (binatang sejenis crustacea, rasanya agak mirip udang) yang khas.




Di pantai Rowo, kita dapat menikmati sunrise dan juga sunset yang tak kalah dengan tempat lain jika cuacanya bagus. Kita bisa bermain bola, layang-layang, membangun istana pasir atau juga teriak-teriak untuk menghilangkan kekesalan di dalam hati. Orangnya juga ramah-ramah, walaupun mereka agak susah untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Mereka menggunakan bahasa jawa dengan logat khas daerah mereka yang sering disisipkan kata “yuu”. Teman-teman saya banyak juga yang berasal dari sana, karena unik mereka dicap “wong kidul”.

Rute jika naik kendaraan umum : naik Kopada berwarna kuning dari depan pasar Kulon Prembun. Cukup membayar +/- Rp.5000,- Turun hingga di poolnya, pas di perempatan dekat balai desa Lembupurwo baru dilanjutkan jalan kaki. Jika tidak mau jalan kaki, banyak ojek yang tersedia di situ.

Ketika datang jangan lupa untuk membeli emping mlinjo untuk oleh-oleh karena daerah ini merupakan penghasil emping mlinjo yang cukup bagus dan rasanya enak. Selain itu juga penghasil gula merah yang berkualitas.

Saran sebelum datang ke tempat ini:

- Usahakan datang ketika pagi atau sore hari.
- Jika ingin datang pada siang hari, jangan lupa bawa payung atau topi.
- Bawa air minum sendiri jika tidak berencana membeli minum di sana.
- Bawa tikar jika hendak duduk-duduk di sana.
- Usahakan memakai sandal jepit.

Warning :

- Berombak besar ketika mulai tengah hari hingga malam. Jangan membiarkan anak kecil bermain tanpa pengawasan takutnya nanti terseret ombak.

- Berangin kencang.

Selamat Berekreasi! di @Tlogodepok, Mirit, Kebumen.
KALEMNYA PANTAI ROWO 
Desa: Lembupurwo Kec: Mirit Kab: Kebumen Pantai Rowo merupakan salah satu pantai yang terdapat di kabupaten Kebumen bagian timur. Lokasinya di desa Lembupurwo kecamatan Mirit sekitar 10 km dari kota Prembun atau 1,5 km ke selatan dari jalur alternatif Jogja-Jakarta. Hampir berbatasan langsung dengan kabupaten Purworejo. Jalan untuk ke sana sudah diaspal sehingga cukup mudah untuk dilalui dengan kendaraan. Pantai Rowo masih cukup perawan dan tidak perlu membayar retribusi untuk masuk ke sana. Pokoknya bebas. Pemandangan di sana cukup bagus. Kita akan melewati daerah perkebunan yang ditanami melinjo, jagung, cabe, kelapa, jambu mete, dan juga semangka. Setelah itu medan mulai berganti dengan gunungan pasir sekitar 50 meter. Cukup panas juga ketika matahari bersinar terik, untuk itu jika ke sana siang hari saya sarankan untuk membawa payung. Medan gunungan pasir selesai, kita akan turun melewati segara anakan sebelum akhirnya sampai di tepi pantai. Segara anakan ini seperti danau kecil yang terbentuk ketika air pasang. Di sana banyak ikan-ikan kecil, kepiting dan aneka kerang. Karena dangkal, banyak yang sering mandi di situ ketika selesai berenang di laut dan ada beberapa kapal wisata yang dapat mengantarkan kita berkeliling danau. Di sini tidak perlu takut kepanasan karena di sepanjang segara anakan telah dijadikan area konservasi cemara udang oleh KKN UGM Yogyakarta sejak tahun 2007/2008 lalu. Selain itu kini juga mulai ditanami tanaman bakau. Bisa dibayangkan bukan. Menginjak pantainya, kita akan disambut pasir hitam bersih yang cukup luas dan dengan garis pantai yang panjang dari ujung timur hingga ujung barat. Lautnya bersih, berwarna biru dan berombak besar. Jika kita berjalan terus ke timur nantinya kita akan bertemu dengan muara sungai Gentan. Biasanya jika di hari libur, seperti hri minggu atau hari raya, pantai ini selalu ramai dan ada beberapa pedagang yang akan berjualan di tepi pantai di gubuk-gubuk kecil. Tempe mendoannya tak perlu diragukan lagi rasanya, apalagi jika masih hangat. Ada juga rempeyek undur-undur (binatang sejenis crustacea, rasanya agak mirip udang) yang khas. Di pantai Rowo, kita dapat menikmati sunrise dan juga sunset yang tak kalah dengan tempat lain jika cuacanya bagus. Kita bisa bermain bola, layang-layang, membangun istana pasir atau juga teriak-teriak untuk menghilangkan kekesalan di dalam hati. Orangnya juga ramah-ramah, walaupun mereka agak susah untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Mereka menggunakan bahasa jawa dengan logat khas daerah mereka yang sering disisipkan kata “yuu”. Teman-teman saya banyak juga yang berasal dari sana, karena unik mereka dicap “wong kidul”. Rute jika naik kendaraan umum : naik Kopada berwarna kuning dari depan pasar Kulon Prembun. Cukup membayar +/- Rp.5000,- Turun hingga di poolnya, pas di perempatan dekat balai desa Lembupurwo baru dilanjutkan jalan kaki. Jika tidak mau jalan kaki, banyak ojek yang tersedia di situ. Ketika datang jangan lupa untuk membeli emping mlinjo untuk oleh-oleh karena daerah ini merupakan penghasil emping mlinjo yang cukup bagus dan rasanya enak. Selain itu juga penghasil gula merah yang berkualitas. Saran sebelum datang ke tempat ini: - Usahakan datang ketika pagi atau sore hari. - Jika ingin datang pada siang hari, jangan lupa bawa payung atau topi. - Bawa air minum sendiri jika tidak berencana membeli minum di sana. - Bawa tikar jika hendak duduk-duduk di sana. - Usahakan memakai sandal jepit. Warning : - Berombak besar ketika mulai tengah hari hingga malam. Jangan membiarkan anak kecil bermain tanpa pengawasan takutnya nanti terseret ombak. - Berangin kencang. Selamat Berekreasi!
— di lembupurwo, mirit, kebumen.

Benteng Van Der Wijck Gombong .


Wisata ke Benteng Van Der Wijck Gombong .

Ini adalah salah satu tempat wisata alternatif jika anda ingin berwisata sambil mengenang sejarah perjuangan bangsa ini , kita bisa wisata sambil belajar seja
Benteng ini merupakan peninggalan pemerintahan hindia-belanda , yang berada di Kompleks Secata A ( Sekolah Calon Tamtama A ) Gombong beralamat di jalan Sapta Marga Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Sekitar kurang lebih 140 km dari yogyakarta , untuk mencapai benteng ini tidaklah sulit karena letaknya hanya 1km dari jalan utama dan dilengkapi dengan penunjuk jalan yang sangat jelas. Benteng Van der wijck yang dibangun pada tahun 1818 ini berfungsi sebagai tempat pertahanan bangsa belanda pada zaman penjajahan dulu .Benteng ini berbentuk segi delapan memiliki dua lantai benteng ini seluruh temboknya terbuat dari batu bata merah dan benteng ini memiliki ciri – ciri khusus yang berbeda dengan benteng – benteng lain peninggalan Belanda di Indonesia. Di Benteng van der wijck inilah Soeharto mantan Presiden Indonesia ke 2 pernah di latih kemiliteranya. Benteng ini memiliki tinggi 10 meter, setebal 1,4 meter, dan seluas 7.168 meter persegi itu dibangun dua lantai. Lantai pertama mempunyai empat pintu gerbang. Di dalamnya terdapat 16 ruangan besar dan 27 ruangan kecil. Juga ada 72 jendela dan delapan tangga untuk menuju lantai dua, yang memiliki 16 ruangan besar dan 25 ruangan besar. Awalnya Benteng Van Der Wijck adalah milik TNI, tetapi pada tahun 1998 benteng ini diserahkan untuk dikelola oleh pihak swasta. Pada tahun 2000, benteng ini direnovasi dan dibangun sarana permainan anak-anak, gedung pertemuan, dan hotel. Barak-barak tentara dibangun menjadi hotel-hotel tanpa mengubah bentuk aslinya karena pihak TNI tidak memperbolehkan untuk mengubah bentuk asli dari benteng tersebut. Namun, hotel yang terdapat didalam benteng ini tidak dibuka untuk umum, kecuali pada Tahun Baru atau Lebaran. Benteng ini sering digunakan untuk seminar, diklat, acara wedding juga bisa dilakukan di gedung pertemuan. 


Di dalam benteng ini banyak terdapat foto-foto tentang sejarah benteng ini pada masa lalu , didepan benteng terdapat beberapa tank-tank masa lalu yang di pajang di sekitar benteng sedang di atap benteng terdapat wahana permainan kereta yang berjalan di atap benteng Banyak sekali pilihan wahana permainan anak-anak tersedia di benteng van der wijck seperti kolam renang , atv , kereta delman , becak air , kolam renang dan masih banyak lainnya. Menurut saya lokasi wisata ini sangat cocok untuk wisata keluarga karena harga tiket masuknya yang snagt terjangkau hanya Rp 4000 dan Rp 5000 pada hari libur sangat terjangkau bukan. Jika anda selesai berwisata dan ingin mencari oleh-oleh anda tidak perlu bingung karena disekitar benteng banyak pedagang oleh-oleh khas kebumen.

Senin, 01 Juli 2013

SEJARAH HADIS PADA MASA AWAL SAMPAI PENGKODIFIKASIAN

SEJARAH HADIS PADA MASA AWAL SAMPAI MASA PENGKODOFIKASIAN


Daftar Isi

Daftar Isi ............................................................................................................................................... i
BAB I
Pendahuluan........................................................................................................................................ 1
BAB II      
1.      Sejarah Hadis..........................................................................................................................  2
2.      Perkembangan Hadis Pada Masa Awal.................................................................................. 2
A.     Hadis Pada Masa Nabi Muhammad SAW .......................................................................... 2
B.     Hadis Pada Masa Sahabat .................................................................................................. 3
1.      Perintah Mentablighkan Hadis ..................................................................................   3
2.      Ancaman Terhadap Pendustaan Dalam Pentablighkan Hadis...................................  3
C.     Hadis Pada Masa Khulafa’urosyidin ................................................................................... 3
        3.    Hadis Pada Masa Pengkodifikasian........................................................................................ 5
BAB III
Penutup ................................................................................................................................................ 9
BAB IV
Daftar Pustaka .................................................................................................................................... 10




























BAB l

Pendahuluan
Umat islam pasti akan bingung ketika mempelajari kitab suci Al-Quran tanpa sebuah penjelas. Karena sebagian ayat-ayat Al-Quran ada yang belum jelas (bersifat global) dan masih memerlukan suatu penjelas agar dapat dipahami oleh umat islam. Maka dari itu Nabi Muhammad SAW memberikan suatu penjelas yang berupa semua penjelasan-penjalasan yang diucapkan dan juga yang dilakukan oleh Nabi. Ucapan-ucapan dan juga perbuatan yang dilakukan Nabi, kemudian disebut dengan Hadis (as-Sunnah).
Di dalam makalah ini, kami akan membeberkan sedikit tentang sejarah hadis dari masa Rosululloh sampai masa pengkodifikasian. Manfaat kita mempelajari materi ini adalah agar kita dapat mengetahui bagaimana hadis-hadis yang telah sampai atau telah kita pelajari selama ini, pada saat dulu banyak mengalami kontroversi, baik dalam hal penerimaannya (pemaknaannya) maupun pembukuannya.
Sebelum Rosululloh wafat, tidak ada pertentangan tentang Hadis. Karena apabila terjadi perbedaan penafsiran, maka para sahabat dapat langsung menanyakan kepada  beliau. Akan tetapi, setelah Rosululloh wafat, banyak umat islam yang terpecah belah karena masalah Hadis. Sehingga umat islam terbagi menjadi berbagai kelompok yang memiliki dasar-dasar yang berbeda dan selalu mengklaim bahwa kelompoknya adalah yang paling benar.











BAB II

1.    Sejarah Hadis
Hadits telah berlangsung sejalan dengan perjalanan ajaran islam. Ketika Rosululloh mulai berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi sampai terang-terangan, maka pada saat itulah hadits mulai muncul. Pada masa Rosululloh diantara umat islam tidak pernah terjadi pertentangan atau perbedaan pemahaman tentang sebuah hadits. Hal ini dikarenakan jika terjadi sebuah persoalan atau kesalahan pemahaman tentang sebuah hadits, maka secara langsung dapat dikonfirmasikan kepada Rosululloh. Berbeda dengan masa-masa sesudah rosululloh wafat. Pada masa ini telah terjadi penafsiran yang berbeda seiring dengan meluasnya wilayah islam yang bukan hanya berada di wilayah semenanjung arab.

2.    Perkembangan Hadis Pada Masa Awal

A.    Hadis Pada Masa Nabi Muhammad SAW
Pada masa nabi segala bentuk sifat, karakter, dan tingkah lakunya yang dinisbahkan oleh nabi muhammad SAW disebut hadits yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada masa Rosululloh penyampaian terjadi di mana dan kapan saja. Bahkan sering kali Rosululloh menyampaikan hadis sambil duduk-duduk di alam terbuka dan penyampaian hadisnya dengan sangat akrab kepada para sahabatnya. Sehingga sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan duduk-duduk bersama para sahabatnya.
Pada masa Rosululloh hadis belum dikodifikasikan karena masih dalam pembentukan dan perkembangan. Selain itu juga, Nabi dan sahabat masih sibuk untuk menghafal dan menuliskan Al-Qur’an sehingga hadis pada masa Rosululloh hanya dihafal para sahabat yang menulis Hadis saja.
Pada zaman Rosululloh para sahabat saling membantu dalam menghafal, mereka saling membantu menghafal dari malam sampai dini hari. Abu Hurairah mengatakan ia selalu  membagi satu malam menjadi tiga, yaitu sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk sholat, sedang sepertiga lagi untuk menghafal hadis. Dalam buku hadis Nabawi dari sejarah kodifikasinya bahwa “pada masa Rosululloh, para sahabat tidak jarang ada yang menulis hadis dan menghafal hadis. Bahkan Abu Musa Al-Asy’ari dan Umar bin Khotob juga saling mengingat-ingat hadits sampai subuh”.[1]
Jadi pada masa Rosululloh hadis disampaikan dalam kehidupan sehari-hari di manapun dan kapanpun, bahkan sering disampaikan sambil duduk-duduk bersama para sahabat. Dan untuk menjaga hafalan hadisnya para sahabat saling membantu dalam menghafal.
B.  Hadis Pada Masa Sahabat
Sekalipun terdapat Hadis Nabi SAW yang membolehkan penulisan Hadis dan sekalipun pada masa beliau sejumlah sahabat telah menulis Hadis dengan seizin beliau, para sahabat tetap menahan diri dari menuliskan Hadis pada masa Khulafa’urasyidin. Sebab mereka sangat menginginkan keselamatan Al-Quran.
Diantara para sahabat ada yang melarang penulisan As-Sunah dan ada pula yang membolehkannya. Tidak lama setelah itu banyak sahabat yang membolehkan penulisan Hadis, bahkan ada sebagian sahabat yang semula melarang penulisan Hadis, kemudian membolehkannya.
1.      Perintah Mentablighkan Hadis
Diberikan oleh Abu Daud dan At-Turmudzy dari riwayat Zaid ibn Tsabit, bahwa Rosululloh SAW bersabda, yang artinya: “Mudah-mudahan  Allah mengindahkan seseorang yang mendengar ucapanku lalu dihafalkan dan difahamkan dan disampaikan kepada orang lain persis seperti yang ia dengar; karena banyak sekali orang yang disampaikan berita kepadanya, lebih faham dari pada yang mendengarnya sendiri”.
2.      Ancaman Terdapat Pendustaan Dalam Mentablighkan Hadis
Di samping itu beliau memerintahkan para sahabat supaya berhati-hati dan supaya memeriksa benar-benar suatu hadis yang hendak disampaikan pada orang lain.
Nabi SAW bersabda: “Cukup kiranya dosa bagi seorang manusia yang menceritakan segala apa yang didengarnya“. (H. R. Muslim dari Abu Hurairah).
Oleh karena itu, para sahabatpun sesudah Rasul wafat, sedikit demi sedikit menyampaikan hadis kepada orang lain.

C.  Hadis Pada Masa Khulafaurrosyidin
Para sahabat, sesudah rasul wafat tidak lagi berdiam di kota madinah. Mereka pergi ke kota-kota lain. Maka penduduk kota-kota lainpun mulai menerima hadis. Para tabi’in mempelajari hadis dari para sahabat itu. Dengan demikian mulailah berkembang riwayat dalam kalangan tabi’in.
Pada saat itu, riwayat hadis pada permulaan masa sahabat masih terbatas sekali. Disampaikan kepada yang memerlukan saja dan bila perlu saja, belum bersifat pelajaran. Perkembangan hadis dengan membanyakkan riwayatnya, terjadi sesudah masa Abu Bakar dan Umar. Tegasnya pada masa ‘Utsman dan ‘Ali.
Dalam masa khalifah Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadis belum di luaskan. Beliau-beliau ini mengerahkan minal ummat (sahabat) untuk menyebarkan Al-Quran dan memerintahkan para sahabat untuk berhati-hati dalam menerima riwayat-riwayat itu.
Umar Ibn Khatab juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah Hadis, bahkan hingga dalam penyampaiannya secara lisan. Ketika Umar mendengar Hadis yang disampaikan oleh Ubay Ibn Ka’ab, Ia baru bersedia menerima riwayat Hadis itu setelah para sahabat yang lain, di antaranya Abu Dzar, menyatakan telah mendengar pula Hadis seperti yang disampaikan Ubay tersebut.[2]
Umar juga menekan kepada para sahabat yang lain agar tidak memperbanyak periwayatan Hadis di masyarakat, alasannya agar masyrakat tidak terganggu konsentrasinya dalam membaca dan mendalami Al-Qur’an.
Abu Hurairah yang kemudian hari dikenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan hadis, terpaksa menahan diri untuk tidak banyak meriwayatkan Hadis pada masa Umar. Abu Hurairah pernah menyatakan, bahwa sekiranya dia banyak meriwayatkan Hadis pada zaman Umar, niscaya dia akan dicambuk oleh Umar.
Data sejarah di atas menunjukkan bahwa Hadis pada masa sahabat, khususnya Khulafa’urasyidin, dikodifikasikan secara resmi, bahkan dalam hal periwayatan pun mereka mempersempit ruang geraknya. Hal ini dipahami dari adanya regulasi-regulasi yang membatasi periwayatan Hadis, sampai pembakaran terhadap sebagian Hadis yang sudah ada. Namun demikian, berbagai regulasi yang ditetapkan oleh Khulafa’urasyidin dalam membatasi periwayatan Hadis tersebut tidak tidak menyurutkan antusiasme beberapa sahabat dalam meriwayatkannya. Ada tujuh sahabat yang terkenal banyak meriwayatkan hadis, masing-masing lebih dari seribu Hadis.
Diantara ketujuh sahabat yang kemudian mendapat julukan dari para ulama sebagai Al-Mukassirun itu adalah;[3]Muhammad Ibn’ Alwi Al-Maliki Al Husani, Al-Qawa’id Al-Asasiyah Fi’Ilm Mustalah Al-Hadis, dan masih lainnya.
3.    Hadis Pada Masa Pengkodifikasian

Gerakan kodifikasi Hadis secara resmi baru muncul pada periode tabi’in, dan kemudian dilanjutkan pada periode tabi’it tabi’in. Periode tabi’in adalah generasi sesudah sahabat. Periode ini merupakan masa berlangsung dari tahun 100 H. Yang ditandai dengan meninggalkan generasi sahabat terakhir, yaitu Abu al-Thufail Amir Ibn Watsilah, hingga tahun 150 H. Sedangkan periode tabi’it tabi’in adalah generasi sesudah tabi’in yang masanya berlangsung sejak berakhirnya masa tabi’in tahun 150 H, hingga tahun 220 H pada dua periode tersebut kodifikasi hadis mendapat dukungan penuh dari penguasa dan dilakukan secara intensif dan massif. Para ulama yang memiliki kompetensi dari bidang ini berlomba-lomba mencurahkan segala kemampuannya untuk menghimpun, menyeleksi, dan kemudian membukukan Hadis-hadis Nabi SAW dalam kitab-kitab yang beraneka ragam. Tujuannya adalah menyelamatkan Hadis-hadis Nabi SAW dari kepunahan dan penyelewengan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Menurut data sejarah, awal mula kodifikasi Hadis secara resmi diprakarsai oleh Umar Ibn Abdul Aziz (w. 102 H). Ia adalah khalifah ke-8 dari dinasti Bani Umayyah yang dinobatkan pada tahun 99 H. Selama memegang jabatan khalifah ia terkenal adil, wara’ dan saleh.
Sifat-sifatnya yang mulia itu menyebabkan ia sering disejajarkan dengan Umar bin Khathab, khalifah kedua dari Khulafa’urasyidin. Itu pula sebabnya sehingga sejarawan kadang-kadang menyebut Umar Ibn Abdul Aziz sebagai Umar II.
Kodifikasi Hadis yang dilakukan pada masa ini dilatar belakangi oleh kekhawatiran Umar Ibn Abdul Aziz terhadap berbagai persoalaan selama masa pemerintahannya akibat pergolakan politik yang sudah terjadi sejak lama, kekhawatiran itu didasarkan pada tiga hal:
1.      Hilangnya Hadis-hadis yang shahih dan meninggalnya ulama.
2.      Bercampurnya Hadis shahih dan yang palsu.
3.      Semakin meluasnya daerah kekuasaan islam, sementara kemampuan para tabi’in satu
dengan lainnya tidak sama.
Selanjutnya khalifah Umar bin Abdul aziz mengirim surat ke beberapa ulama dan penguasa yang berisi perintah untuk segera menghimpun Hadis-hadis yang masih tersebar di masyarakat. Salah seorang penguasa yang mendapat perintah tersebut adalah Abu Bakar bin Amr bin Hazm (w. 120 H), sebagai gubernur Madinah. Dia diberi tugas untuk mengumpulkan Hadis yang ada pada Amrah binti Abdurrahman bin Sa’ad bin Zurarah bin ‘Adus al-Anshari (20-98 H), seorang murid kepercayaan ‘Aisyah, dan al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar al-Shiddiq (w. 107 H) seorang pemuka tabi’in yang merupakan salah satu dari tujuh fuqaha Madinah. Sedangkan ulama yang dipercaya melakukan tugas yang sama adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Muslim ibn Ubaidillah ibn Syihab al-Zuhry (w. 124 H), seorang tabi’in yang ahli dalam bidang fiqih dan Hadis. Dia diperintahkan untuk meneliti dan membuktikan tradisi yang hidup dikalangan penduduk Madinah.[4]
Peran kedua orang tersebut dalam kodifikasi Hadis sangat besar, terutama Ibn Syihab al-Zuhry. Begitu besarnya pangakuan ulama terhadap peran Ibn Syihab Al-Zuhry, sehingga para ulama pada masanya berkomentar, bahwa jika tidak karena jasanya niscaya banyak Hadis yang sudah hilang.[5] Namun sayang, kedua karya tabi’in tersebut tidak sampai kepada generasi sekarang, karena tidak dapat dilacak keberadaannya.
Upaya yang dilakukan oleh Ibn Syihab al-Zuhry mendapat respon positif dari para ulama yang lain, baik yang satu generasi maupun generasi sesudahnya. Mereka bekerja keras melakukan kodifikasi Hadis di daerah yang berbeda-beda. Diantara para ulama tersebut adalah;[6]
1.      Abu Hurairah (19 SH-59 H). Menurut Baqi, ia meriwayatkan 5.374 hadis.
Namun menurut penyelidikan terbaru diketahui bahwa Abu Hurairah hanya meriwayatkan Hadis sebanyak 1.236 buah.[7]
2.      Abdullah ibn Umar (10 SH-74 H). Menurut Baqi’, ia meriwayatkan Hadis sebanyak 2.630 buah. Menurut sebuah laporan otentik disebutkan bahwa ia menyimpan koleksi hadis.[8]
3.      Anas ibn Malik (10 SH-93 H), seorang pelayan Nabi SAW selama 10 tahun. Ia meriwayatkan 2.286 hadis.
4.      Aisyah binti Abu Bakar al-Shiddiq (w. 58 H), meriwayatkan 2.210 Hadis.
5.      Abdullah ibn Abbas (3 SH-68 H), meriwayatkan 1.660 hadis.
6.      Jabi’ ibn Abdullah (16 SH-78 H), meriwayatkan 1.540 hadis.
7.      Abu Said al-Khudri (w. 74 H), meriwayatkan 1.170 hadis.

Selain ulama-ulama di atas, juga masih banyak ulama di kota-kota arab yang juga berperan dalam pengkodifikasian Hadis, yaitu;
a.       Ibn Juraij (80-150 H), sebagai pelopor kodifikasi hadis di kota Makkah.
b.      Muhammad ibn Islaq (w. 151 H), Ibn Abi Dzi’ bin (81- 15 H), serta Malik Ibn Anas (93-179 H), sebagai pelopor kodifikasi Hadis di kota Madinah.
c.       Al-Rabi’ ibn Shahih (w. 160 H) Hammad ibn Salmah (w. 176 H), dan Sa’id ibn Abi Arubah (w. 156 H), sebagai pelopor kodifikasi Hadis di kota Basrah.
d.      Sufyan al-Tsaury (97-161 H), sebagai pelopor kodifikasi Hadis di kota Kufah.
e.       Al-Auza‘iy (88-157 H), sebagai pelopor kodifikasi Hadis di kota Syam.
f.       Ma’mar ibn Rasyid (93-153 H), sebagai pelopor kodifikasi Hadis di kota Yaman.
g.       Ibn Mubarak (118-181 H) sebagai pelopor kodifikasi Hadis di kota Khurasan.
h.      Abdullah ibn Wahhab (125-197 H), sebagai pelopor kodifikasi Hadis di kota Mesir.
i.        Jarir ibn abd al-Hamid (110- 188 H), merupakan seorang pelopor kodifikasi Hadis Roy.
Para ulama yang disebutkan di atas merupakan tokoh-tokoh kodifikasi Hadis yang cukup terkenal dalam sejarah pembukuan Hadis. Sayangnya hasil karya mereka tidak seluruhnya sampai pada generasi sekaranag. Namun demikian ada beberapa kisah Hadis hasil kodifikasi yang termasyur dan mendapat perhatian besar dari para ulama pada umumnya. kitab-kitab tersebut adalah;
a.       Al-Muwatha’ yang disusun oleh Imam Malik (93-179 H).
b.      AL-Magbazi wa al-Siyar (al-Sirab al-Nabawiyah), yang disusun oleh Muhammad ibn Ishaq (w. 151 H).
c.       Al-fami’ yang disusun oleh Abdur Razzaq al-Shari’ani (w. 211 H).
d.      Al-Musbannaf yang disusun oleh Syu’ban ibn Hajjaj (w. 160 H).
e.       Al-Musbannaf yang disusun oleh Syu’ban ibn ‘Uyainah (w. 198 H).
f.       Al-Musbannaf yang disusun oleh al-Laits ibn Sa’ad (w. 175 H).
g.       Al-Musbannaf yang disusun oleh al-Auza’iy (88-157 H).
h.      Al-Musbannaf yang disusun oleh al-Hamidy (w. 219 H).
i.        Al-Magbazi al-Nabawiyah, yang disusun oleh Muhammad ibn Waqid al-Aslamy (w. 130- 207 H).
j.        Al-Musnad, yang disususn oleh Abu Hanifah (w. 150 H).
k.      Al-Musnad, yang disususn oleh Zaid ibn Ali.
l.        Al-Musnad, yang disususn oleh Ahmad Imam Ahmad (164-241 H).
m.    Mukhtalif al-Hadis disususn oleh Imam al-Syafi’ (w. 204 H).
Dari beberapa kitab Hadis hasil kodifikasi para ulama tersebut yang mendapat perhatian paling besar dari para ulama dari masa ke masa ada empat, yaitu: al-Muwatha’, al-Musnad karya Imam al-Syafi’i, Mukbtalif al-Hadis, dan al-Sirab al-Nabawiyah (al-Magbazi wa al-Siyar). “adapun kitab al-Muwatha’ yang ditulis oleh Malik ibn Anas (93-179 H), dinilai oleh para ulama sebagai kitab kodifikasi Hadis yang pertama dan yang dapat diwarisi hingga sekarang. Kitab ini memuat 1.726 riwayat yang bersumber dari Nabi SAW, sahabat, dan tabi’in.
Kodifikasi pada masa ini secara umum belum dilakukan secara selektif. Kitab-kitab mereka tidak hanya menghimpun apa yang datang dari Nabi SAW saja, tetapi jugu farwa-farwa tabi’in. Karena itu, di dalam kitab-kitab tersebut terdapat Hadis marfu’. Hadis mawaquf, dan Hadis maqtbu.
Hal ini pada akhirnya menuntut para ulama untuk melakukan penyeleksian terhadap kitab- kitab Hadis yang ada. Upaya ini dilakukan oleh para ulama sekitar akhir abad ke-2 H. Atau awal abad ke-H. Hadis-hadis dalam kitab tersebut kemudian dikoreksi, dipilih berdasarkan kaidah yang ditetapkanulama pada masa ini. Mereka bekerja keras mengadakan penyaringan Hadis, sehingga berhasi memisahkan Hadis yang dha’if dari yang shahih dan Hadis-hadis yang mawaquf serta maqthu’ dari yang marfu’, hasil nyata dari upaya tersebut adalah lahirnya kitab-kitab Hadis induk yang enam (al-Kutub al-Sittah). Kitab-kiab ini dianggab berkualitas standar karena telah memuat hampir seluruh Hadis Nabi SAW yang shahih, memuat hampir seluruh masalah terkandung dalam Hadis Nabi SAW, serta dipandang sebagai kitab-kitab yang paling baik susunan, isi, dan kualitas diantara kitab Hadis yang lain. Keenam kitab tersebut adalah:
a.       Al-Jami’ al-Shahih karya al-Bukhari
b.      Al-Jami’ al-Shahih karya muslim
c.       Al-Sunan karya Abu Dawud
d.      Al-Sunan karya al-Turmdzi
e.       Al-Sunan karya al-Nasa’i
f.       Al-Sunan karya Ibn Majah






BAB III
Penutup

Demikianlah penjelasan dari makalah kami. Sudah barang tentu banyak kekurangan dalam penyajian-penyajian materi kami. Maka dari itu kami akan slalu terus mendalami lagi materi kami ini. Tak lupa juga kritik dan masukan yang membangun selalu kami harapkan kepada semua pembaca.
Dari penjelasan makalah kami ini, dapat kami simpulkan bahwa Hadis sudah muncul sejak masa Nabi Muhammad SAW memulai dakwahnya, baik secara sembunyi-sembunyi sampai terang-terangan. Kemudian, untuk pembukuannya, dari masa Rosul hadis belum dibukukan sampai masa pertengahan Khulafaurrsyidin. Karena para sahabat masih berfokus kepada penyebaran-penyebaran Al-Qur’an kepada masyarakat. Para sahabat dan Khulafaurrosyidin sangat berhati-hati dalam menerima suatu riwayat hadis. Tetapi setelah masa Abu Bakar dan Umar, yaitu tepatnya pada masa ‘Usman dan ‘Ali Hadis sudah mulai dibukukan. Hadis dibukukan pada masa ‘Usman dan ‘Ali karena pada masa Abu bakar dan Umar mereka sangat membatasi periwayatan hadis. Terutama Umar. Dia sangat berhati-hati dalam menerima riwayat-riwayat itu. Tetapi setelah Umar mendengar suatu riwayat hadis dari 2 orang sahabat atau lebih, dia baru mau menerima riwayat tersebut. Dan kodifikasi Hadis secara resmi menurut data sejarah, awal mula diprakarsai oleh Umar bin Abdul Aziz (w. 102 H), khalifah ke-8 dari dinasti Bani Umayyah yang dinobatkan pada tahun 99 H. Hal itu dilakukan karena kekhawatirannya terhadap persoalan-persoalan yang terjadi pada saat itu. Yaitu : Hilangnya Hadis-hadis yang shahih dan meninggalnya ulama-ulma, Bercampurnya Hadis shahih dan yang palsu, Semakin meluasnya daerah kekuasaan islam sementara kemampuan para tabi’in satu dengan lainnya tidak sama.






Daftar Pustaka

1.      Azami M.M., Hadis Nabawi. Jakarta: Pustaka Firdaus, cet.1, 1994, cet.2, Des 2000.
2.      Octoberrinsyah,  Al-Hadis. Yogyakarta: 2005.
3.      Al-Khatib. M. Ajaj, Hadis Nabi Sebelum Dibukukan. Jakarta: Gema Insani, 1999.
4.      Ranuwijaya. Utang, Ilmu Hadis. Jakarta: Raya Media Pratama, 1996.
5.      Azami M.M., Metodologi Kritik Hadis, terjemahan A. Yamin, Jakarta: Pustaka Hidayah, 1996.


[1] Hadits Nabawi dari sejarah dan kodifikasinya, hlm 448.
[2] Ibid, hlm 44.
[3] Ttp: Sahi, 1402 H, hlm 76.
[4] Mustafa al-siba’i al-sunnah wa makanat uhfi Tasyri’al islami. Dar Al-Daumiyah, 1949; hlm 102.
[5] Utang Ranuwijaya. Ilmu Hadis, jakarta; Raya Media Pratama. 1996; hlm 67.
[6] Subhi al-Shahih, Ulum al-Hadis; hlm 337-338.
[7] Muhammad Mustafa’ Azami, Metodologi Kritik Hadis, terjemahan A. Yamin (Jakarta, Pustaka Hidayah. 1996.
[8] Ibid; hlm 53.